Pagi yang muram di Kampung Maseng. Gumpalan awan kelabu bergerak berputar-putar di atas atap rumah warga, seakan mengirim pesan nestapa. 
 
Dalam beberapa bulan terakhir hanya sesekali hujan turun rintik-rintik. Guyuran hujan dalam intensitas tinggi, malah lebih kerap terjadi.  Kadang disertai kilat, petir dan angin kencang. Entah sudah berapa lama matahari tak sanggup lagi menunjukkan kegarangannya. 
 
Minggu (05/02/2018), hujan kembali mengguyur, hingga Senin pagi tak ada tanda-tanda berhenti. Sebagaimana warga lainnya, suasana hati Sigit Firdaus (27) juga muram melihat cuaca buruk yang tak juga berlalu. 
 
Namun kehidupan harus terus bergerak. Di tengah guyuran hujan sejak semalam, Senin pagi (05/02/2018), Resmawati (18) - adik Sigit -- sudah bersiap dan memutuskan berangkat sekolah.  Menjelang siang, giliran si bungsu, M. Ikhsan Ramdhani (13), bersiap. 
 
Siswa madrasah tsanawiyah kelas 8 ini sudah merapikan buku dan peralatan sekolah. Juga seragam putih biru plus sepatu, sudah dia kenakan. Namun hujan yang makin deras, membuat seisi rumah berubah pikiran. 
 
Iksan mengurungkan niatnya berangkat sekolah. Seragam yang dia kenakan, kembali dibuka dan dilipat. Sepatu kembali mengisi tak di  sudut rumah. Lalu ia memilih menghabiskan waktu bermain telepon genggam di kamar. 
 
Saat jarum jam melewati angka 12.00, malaikul maut melayang di atas tiga rumah terdekat dengan rel kereta api jurusan Bogor-Sukabumi.  Detik-detik berlalu hingga sekitar pukul 12.30. Warga masih dibekap udara dingin yang ikut turun dari puncak Gunung Salak.
 
Saat itulah, di tengah suasana siang namun remang laksana petang, tanah bertebing di belakang rumah mereka mulai bergerak, seolah berjiwa. Dengan proses cepat,  tebing tersebut meluncur deras ke arah rumah warga di bawahnya. 
 
Tanggul setinggi sekitar 3 meter yang menjaga lintasan kereta api yang melintas di belakang-atas rumah warga,  kehilangan sandaran.  Tebing beton sepanjang sekitar  30 meter itu,  patah dan ikut terseret gerakan tanah. Potongan beton inipun seolah palu gada yang ikut menghancurkan rumah warga hingga rata dengan tanah. 
 
"Saya sempat melindungi istri dengan tangan saya. Sambil saya tarik dari timbunan tanah. Alhamdulillah selamat pak. Ikhsan yang terpendam sampai sebatas leher," kata Sigit dengan mata menerawang. 
 
Setelah sang istri yang sedang hamil ini selamat, Sigit bergegas membantu Ikhsan. Syukur tetangga juga cepat datang dan membantu evakuasi Ikhsan, hingga anak ini bisa dibebaskan.  "Ikhsan selamat. Hanya punggungnya terasa sakit. Sudah diurut sih, sama uwaknya. Kebetulan iwak memang bisa urut," kata Sigit saat ditemui di lokasi kejadian. 
 
Resmawati jelas selamat  karena saat kejadian ia sedang sekolah. Mereka bergegas menjauh dari kemungkinan lebih buruk. Keluarga Sigit termasuk beruntung, semua anggota keluarganya selamat. 
 
Hal berbeda dialami keluarga Asep Tajuddin.  Senin pagi itu, ia berangkat bekerja sebagaimana biasa. Tak dinyana, inilah kali terakhir Asep melihat wajah orang-orang yang dikasihinya. 
 
Allah terlalu sayang terhadap istri dan empat anak Asep. Longsor menjadi momen terakhir bagi Asep bersenda gurau dengan mereka. Evakuasi pasca longsor menunjukkan, mereka berempat sudah berada di keabadian. 
 
Ditemukan dalam keadaan tak bernyawa adalah istri Asep, Nani Nurhayati (34). Kemudian empat anaknya, yakni Alan Maulana Yusuf (17), Aldi Muhammad Rizqi (8), Aurel (1,5) dan Adit Pratama (10).  
 
Saat menerima santunan dari Menteri Sosial Idrus Marham, nuansa duka masih sangat lekat di wajah Asep. Matanya cekung dan agak gelap.  Pandangannya kosong. Bibir terkatup kaku.
 
Kepada para korban, Mensos menguatkan hati mereka. "Bencana ini semuanya kehendak Allah SWT. Tidak ada yang berharap bencana ini bakal terjadi. Kepada Bapak Asep dan korban bencana lain, kami atas nama pemerintah mengucapkan simpati dan duka mendalam," kata Mensos, di hadapan para korban dan keluarga, di Stasiun Maseng, Bogor, Sabtu (10/02/2018).
 
Asep atau Asep Tajudin adalah korban longsor yang selamat namun kehilangan istri dan empat anaknya. Mensos atas nama negara mengucapkan duka cita secara khusus kepada Asep Tajuddin.
 
Dalam kesempatan itu, Mensos menyampaikan sejumlah bantuan santunan kepada ahli waris 5 jiwa x Rp. 15.000.000 = Rp. 75.000.000 serta santunan luka 5 jiwa x Rp. 2.000.000 = Rp. 10.000.0000.
 
Dalam jangka menengah, Mensos akan meningkatkan kapasitas mitigasi bencana warga dengan mendirikan Kampung Siaga Bencana.  Dan dalam jangka panjang, akan dilakukan penataan pemukiman di kawasan rawan bencana.
 
Mengutip keterangan Camat Cijeruk Hidayat Saputradinata, longsor terjadi dua kali, yakni pada Senin (05/02/2018) jam 12.30 dan jam 14-an.
 
Masih ada beberapa rumah berdekatan dengan ketiga rumah yang nahas tadi.  Pemerintah setempat mengambil langkah cepat agar tidak terulang kejadian sama. 
 
"Untuk mengantisipasi kemungkinan berulangnya kejadian serupa, kami mengungsikan warga lain yang rumahnya berdekatan," kata Hidayat. 
 
Dalam catatan Hidayat, sebanyak 15 kepala keluarga atau sekitar 20 jiwa diungsikan. Sebanyak 10 KK difasilitasi dengan rumah kontrakan di kawasan Pasir Muncang, dan sisanya memilih menumpang rumah kerabat. 
Kategori: 
Penulis Berita: 
Koesworo Setiawan
Fotografer: 
Dasep